Main cast: Park Chanyeol
Lee Raewon
Byun
Baekhyun
Support: Lee Soo Hee raewon’s
sister
Genre : Love, friendship
My first
fanfiction. Namanya juga fiksi, sepenuhnya ngarang. Ini fanfic pertama saya
jadi masih banyak typo. Gatau deh di
korea ada pemainan uno apa engga. Jadi, selamat membaca!
Dikelas, jam
istirahat semua murid sekolah dasar keluar untuk makan siang, bermain, dan
kegiatan lainnya kecuali Raewon dan Chanyeol. Murid kelas 6. Mereka bedua
bersahabat dari kelas 2. Hampir setiap di jam istirahat mereka tidak pernah
keluar kelas, kecuali untuk ke kamar mandi. Mereka bermain dan makan makanan
bekal mereka. Mereka berdua suka sekali dengan mainan. Semua macam mainan
mereka pernah bawa, kali ini chanyeol membawa permainan kartu uno.
“UNO!!” teriak chanyeol memecahkan keheningan kelas
“Yaa!! Chanyeol-ah mengalah lah sedikit, aku sudah menerima tiga kali
kartu +4 darimu” melas raewon
“Bagaimana aku mau mengalah kartuku tinggal satu” chanyeol mengangkat
kartu sisa miliknya
“Aishh” raewon menaruh kartu 5 kuning miliknya
Chanyeol menaruh kartu +2 kuning sisa miliknya ke tumpukan katru
dengan gembira
“Yee aku menang lagi!! Hahaha” chanyeol berdiri di kursi kegirangan,
turun lalu mancubit pipi raewon. Entah apa maksudnya
“Yaa Appo! Mengapa kau selalu menang?!” raewon melepas cubitan chanyeol
dengan keras
“Hehehe kan sudah ku bilang aku mahir dalam permainan ini” jawab chanyeol
sambil nyengir
Raewon hanya menatap
wajah chanyeol dengan kesal tapi lama kelamaan perasaan itu memudar karna
senyum chanyeol yang konyol namun manis, beserta mata bulatnya membuat raewon
ingin selalu bersama chanyeol .
“Apa yang kau lihat? Aku
tampan ya?” pedenya chanyeol sambil bergaya bak boyband terkenalc(emang bener-_-v)
“Aniyo” lagi lagi chanyeol
menghilangkan perasaan kesal raewon saat itu, chanyeol tahu kalau raewon kesal
ia akan diam.
Raewon terduduk di
bangkunya begitu juga chanyeol malah duduk di meja raewon.
“Sudahlah kalau begitu
kita tidak usah bermain-main lagi, sebentar lagi kita akan menghadapi ujian
kelulusan” kata chanyeol pelan
“Iya lagipula aku sudah
lelah bermain denganmu” jawab raewon dengan ketus
“Yasudah kalau begitu”
nada kesal keluar dari mulut chanyeol.
Bell masuk kelas pun
berbunyi. Semua murid masuk ke kelas masing masing da bersiap untuk pelajar
berikutnya termasuk raewon dan chanyeol.
*
Tiga bulan kemudian
setelah ujian kelulusan, raewon dan teman teman lulus 100 persen.
Chanyeol mengajak raewon
bermain di taman. Kali ini ia tidak membawa mainan, biasanya chanyeol membawa
ransel yang penuh berisi dengan mainan. Chanyeol
datang dengan menggunakan sepeda.
“Kau tidak bilang padaku
hari ini mau bermain sepeda” teriak raewon kepada chanyeol yang masih agak jauh
dari ia berdiri
Chanyeol mendekat “Hari
ini aku tidak ingin bermain, aku mau bicara sesuatu padamu” jawab chanyeol agak
serius
Raewon hanya manggut
kebingungan, mereka berdua duduk di kursi taman.
“Sudah 5 tahun kita
berteman , sampai saat ini kita masih duduk bersama” kata chanyeol tersenyum
“Haha iya, bahkan kita
sudah lulus sekolah dasar, kau mau melanjutkan sekolah dimana?” jawab raewon
yang tiba tiba terdiam. Mau sekolah dimana? Kata kata itu membuat raewon
berpikir itu berarti kita akan berpisah.
Chanyeol menoleh kearah
raewon. Mengapa ia tahu maksud chanyeol? Chanyeol ingen icara tentang dirinya
yang akan pindah ke luar kota untuk waktu yang lama.
Chanyeol tertunduk sedih
“Aku akan pindah ke Daegu, ikut ayah dan ibuku untuk suatu urusan dan sekolah
disana” chanyeol menahan tangis “mungkin selama 5 tahun” chanyeol tak kuasa
menahan tangis
“Chanyeol-ah mengapa kau
menangis? Kau cengeng sekali” raewon mendecak
“Aku takut kehilangan mu
Lee raewon! Kau sahabat terbaikku” jawab chanyeol agak sedikit membentak dan
itu membuat raewon sedih
“Jangan sedih chanyeol,
kau juga sahabat terbaikku. Aku tidak akan melupakanmu” raewon memegang hangat
tangan chanyeol “kau juga jangan lupakan aku!” timpal raewon
“Ne, tentu saja aku tidak
akan melupakanmu” balas chanyeol dengan mencubit pipi raewon
“Yaa! Jangan sentuh
pipiku lagi” ketus raewon sambil membuang muka
“Hehe mianhae” chanyeol
nyengir dan buru buru mengusap air matanya “aku punya sesuatu untukmu, jaga baik
baik ya!” chanyeol mengeluarkan sekotak kartu uno dari kantung celananya.
Mainan favorit mereka.
“Aah uno! Ayo kita main
sebentar!” ajak raewon langsung merebut sekotak kartu uno tersebut
“Andwe!!” teriakan chanyeol
membuat raewon mendongakkan kepalanya ke arah chanyeol
“Waeyo?” jawab raewon
kebingungan
“A…ani a…aku harus cepat
kembali ke..ke rumah” jawab chanyeol terbata bata
“Oooh baiklah, jaga
dirimu baik baik ya” raewon pun memeluk chanyeol sebagai perpisahan
“Jaga dirimu juga ya”
balas chanyeol sambil memeluk raewon agak malu. Pertama kalinya ia memeluk
raewon.
Akhirnya mereka berpisah,
keduanya saling melambaikan tangan. Lama kelamaan jarak mereka berdua semakin
menjauh.
Saat raewon hendak pulang
ia membuka kotak kartu uno pemberian chanyeol. Saat ia buka ia mendapati
sepucuk kertas di tumpukan kartu tersebut. Raewon penasaan membuka kertas itu,
ternyata itu adalah surat dari chanyeol.
“Aneh sekali, ia sudah
memberiku pesan masih saja menambahkannya” gumam raewon
“Untuk Lee Rae Won:”
“Annyeong rae!”
“Tidak ku sangka aku
akan meninggalkanmu. Lima tahun bukan waktu yang sebentar. Aku ingat lima tahun
yang lalu kita pertama kali bertemu. Kau baru pindah ke sekolah ini di kelas 2,
kau di usili anak laki laki.”
/flashback/
Raewon saat kecil sangat
manis, rambutnya panjang sebahu lebih, pipinya sedikit tembam. Raewon sedang
bermain ayunan di tempat bermain di sekolahnya sambil memainkan boneka anak perempuan
miliknya.
Tiba tiba datang empat anak laki laki bandel
untuk mengusili raewon. Boneka milik raewon direbut oleh salah satu dari mereka
dan menjatuhkannya ke pasir.
Raewon menangis.
Pada saat itu chanyeol
datang untuk mengusir geng bandel tersebut.
“Jauhi yeoja ini!! Kalau
tidak aku adukan pada guru Ahn”
Saat itu chanyeol hanya
seorang diri untuk melindungi raewon. Ia sedikit takut tapi mendengar kata guru
Ahn, geng bandel itu langsung lari meninggalkan chanyeol dan raewon.
/flashback end/
”dan setiap istirahat
kau bermain di taman bermain sekolah, kau selalu jatuh tersungkur dari perosotan. Aku selalu melihatmu jatuh. Haha,
saat itu kau lucu sekali.”
Itu penyebab raewon dan chanyeol
tidak pernah keluar kelas. Chanyeol idak ingin raewon tersiksa hanya karna
taman bermain.
“Aku tidak pernah
bosan berteman denganmu rae. Meskipun kita selalu satu kelas setiap tahun,
jeongmal! Aku tidak pernah bosan padamu. Kau tahu? Joahae, niga jeongmal
joahae.”
Saat itu pipi raewon
memerah.
“Aku menyukaimu karna
kau berani, baik, dan.. kau cantik. Maaf kalau aku pengecut mengatakan perasaanku
yang sebenarnya dalam surat. Ah itu sedikit dariku, jaga dirimu baik baik. Aku
menyayangimu”
Tertanda di sudut kertas
“Park Chanyeol, sahabatmu”
“Tidak ku sangka, chanyeol
sangat memperdulikan diriku. Sifatku yang amat cuek sampai tidak memikirkan
perasaannya?” gumam raewon setelah membaca surat itu.
Raewon pun kembali ke
rumah berjalan dengan agak gontai.
Raewon adalah anak yang
cuek, tidak mempunyai banyak teman. Hanya chanyeol. Terkadang adanya chanyeol
raewon suka kesal karna chanyeol selalu bertingkah aneh. Hari ini ia kehilangan
temannya, ada rasa senang namun ada rasa sedih.
Namun hal itu tidak
menjadi beban dalam hidupnya. Raewon juga anak yang kuat dan berani. Walaupun 5
tahun bukan waktu yang sebentar, ia akan menunggu chanyeol kembali.
Raewon melanjutkan
sekolahnya ke tingkat menengah. Raewon
dengan semangat melalui hari harinya, tapi tanpa chanyeol.
*
Lima tahun kemudian.
Raewon menjadi gadis dewasa ada perubahan dalam dirinya, tubuhnya tinggi,
rambutnya terurai panjang, raewon semakin cantik.
Hari hari raewon tidak terlalu buruk juga
tidak terlalu istimewa. Namun yang jelas raewon masih meridukan sahabatnya, Chanyeol.
Entah bagaimana rupanya sekarang, ia sangat ingin bertemu dengan chanyeol.
Dihari libur, raewon
selalu berkunjung ke taman. Entah apa yang dikerjakan selalu di tempat itu.
Tempat dimana raewon dan chanyeol berpisah.
Disaat raewon duduk
tenang sambil mengingat kenangannya bersama chanyeol di tempat ini, tiba tiba
dari kejauhan seorang namja berlari kencang dangan membawa koper besar dan
ransel kecil di punggungnya. Saking berat koper, namja itu melepaskan genggaman
tangannya dari koper itu tepat di depan raewon.
Raewon memperhatikan larinya namja itu.
Tidak lama muncul seekor
anjing besar dan galak berlari mengejar namja tadi. Raewon kaget hampir ia mau
kabur, tapi tidak. Raewon sangat menyukai anjing tetapi bukan anjing jenis ini.
Raewon berlari kearah
anjing itu dan menghalanginya dan berusaha agar anjing itu tidak mengejar namja
itu lagi. Anjing itu berhenti sejenak dan mata anjing itu tertuju pada mata
raewon, keduanya bertatapan. Mata mereka bertemu. Mereka menyeritkan alis dan
bersiap menyerang satu sama lain.
“Kena kau!” gumam raewon
pada anjing itu
“KYAAA” jeritan raewon
menandakan mulainya pertarungan sengit itu.
Mereka berdua berlari
menyerang satu sama lain.
BRUKK
Anjing itu berlari sangat
kencang dan mendorong pundak raewon hingga terjatuh
“Aaah benar benar kau
membuat ku marah!!” omel raweon saat ia masih terlentang di jalan yang
kebetulan sepi. Biasanya banyak pengunjung yang hanya sekedar duduk duduk
seperti raewon.
“Hey kau anjing nakal!!
Jangan ganggu namja itu!!” teriak raewon sambil berdiri melihat anjing itu
berlari, tetapi ia tidak melihat namja itu. Kemana larinya namja itu?
Raewon berdiri dan
mengambil koper berwarna abu abu milik namja itu. Lalu ia lari mengejar anjing
itu sekaligus mencari namja itu. Pada saat itu raewon memakai sepatu kets, jadi
ia bisa lari dengan leluasa.
(Namja side)
*kira kira siapa yah
namja itu u,u*
Namja itu berlari membabi
buta entah kemana ia pergi, yang penting mencari tempat sembunyi. Ia melihat
celah celah pertokoan di taman tersebut, ia masuk ke dalan celah celah itu.
“Tempat apa ini? Kota
besar tapi banyak anjing liar” gumam namja itu sambil melihat sekeliling tempat
ia bersembunyi dan ketakutan. Entah darimana datangnya anjing itu. Namja itu
baru turun dari bus yang membawanya dari bandara ke halte taman ini. Baru
memasuki pintu taman namja itu melihat anjing berlari ke arahnya.
“Sepertinya anjing itu
sudah tidak ada” dalam hati namja itu, kepalanya keluar dari balik tembok dan
memeriksa keadaan sekitar, hanya beberapa orang berlalu lalang. Perlahan ia
keluar dari balik tembok.
“Aah.. lega rasanya” kata
namja itu mengusap dadanya lalu ia mengayunkan tangannya ke bawah. Tangannya
mencari cari koper
“Koper? Koperku?? Aish
dimana koper ku??”
Teringat ia sudah
meningalkan kopernya di depan yeoja yang sedang duduk di taman tadi.
“Aaah eottokaeh” gumaman
kesal namja itu
“Hey kau!!” panggil
seorang yeoja dari belakang namja itu, membawa koper abu abu, jalannya gontai.
Itu raewon!
“Kau lari kemana? Kau
sampai lupa dengan kopermu” kata raewon sambil menghampiri namja itu dengan
nafas tak bearturan
Namja itu berbalik badan
dan menatap raewon bingung
“A…aku, aah itu koperku
ya? Jeongmal gomawoyo” jawab namja itu girang mengambil koper miliknya
“Ne, sama sa..” raewon
terdiam menatap namja itu, ia tampan sekali dengan senyumnya
Namja itu kebingungan
meliahat raewon bengong
“Gwenchana?” tanya namja
itu
Tanya namja itu
mebuyarkan pikiran raewon
“Aah… gw-gwenchana” jawab
raewon terbata bata
“Oh iya kita belum
berkenalan, Byun baekhyun imnida” namja itu membunkukkan punggungnya
“Ne.. Raewon, Lee raewon
imnida” jawab raewon juga membungukan punggungnya
Mereka berdua duduk di
kursi taman yang biasa raewon kunjungi. Baekhyun pun menceritakan tujuannya ke
sini dan mengapa ia dikejar kejar anjing.
“Kau dari Daegu?” tanya
raewon agak kaget
“Iya, paman ku mengirimku
ke seoul untuk menemui orang tuaku yang bekerja di suatu perusahaan dan aku
akan tinggal dan sekolah disini” jawab baekhyun sambil senyum
“Ooh begitu” kata raewon
singkat. Sebenarnya banyak yang ia ingin tanyakan pada baekhyun, tapi ia malu
menatapnya saja tidak berani. Sepertinya ia sedikit menyukai baekhyun.
“Ka…kau” saat raewon
memberanikan diri untuk bertanya, belum sepatah katapun keluar dari mulutnya
ponsel namja itu berbunyi
Neoui
sesangeuro, yeorin barameul tago
Ne gyeoteuro, eodieseo wannyago
“Sebentar” kata baekhyun
dan merogoh ponsel di kantung celananya sambil tersenyum. Ia pun mengangkat
telfon dan menaruh ponsel di telinganya.
“Yoboseyo” kata baekhyun
kepada seseorang di percakapannya
“Ne, aku sudah sampai di
Seoul”
“Ne” kata baekhyun
singkat, raewon hanya menebak nebak siapa yang menelfon baekhyun
“Aku akan menemuimu ”
lanjut baekhyun lalu menutup telfonnya
“Baiklah kalau begitu aku
mau mencari orang tuaku dulu. Terima kasih banyak, senang berkenalan dengamu”
baekhyun membungkukkan punggungnya dan melambaikan tangan kepada raewon, tentu
saja dengan senyum manisnya
“Ne, senang bekenalan
denganmu juga” raewon membungkukkan punggungnya. Mereka pun berpisah.
(Raewon side)
Hari semakin redup,
waktunya raewon menginggalkan taman dan pulang. Sesampainya di kamar miliknya,
ia duduk di meja belajar dan memandangi figura berisi foto dirinya dengan
chanyeol. Foto itu diambil 5 tahun yang lalu setelah kelulusan sekolah dasar,
mereka terlihat sangan akrab. Seperti adik kakak. Walaupun tidak terlalu mirip
tapi mata raewon sama besar dengan mata chanyeol.
“Chanyeol-ah, kapan kau
pulang?” gumam raewon sambil menopang dagu di tangannya
“Bogoshipoyo” lanjut
raewon. Di foto tersebut chanyeol hanya memamerkan senyum konyolnya tak
berkutip apapun
“Ah percuma saja, aku
hanya bisa menunggumu pulang bukan menyuruhmu pulang!” decak raewon sambil
mendorong kecil figura itu
Ia memutar kursi
belajarnya kesamping dan mengingat kejadian tadi siang saat bertemu baekhyun.
Raewon senang sekali dapat melihat senyum indah selain chanyeol dan berharap
bisa betemu dengannya lagi.
KREKK
Suara pintu kamar raewon
terbuka hampir terbanting. Memecahkan khayalan raewon saat itu, ternyata Lee
soo hee, kakak raewon datang dengan wajah kesal. “Yaa! Lee Raewon apa yang kau
lakukan dengan sepatuku?” soohee mengangkat sepatu kets yang dipakai raewon
tadi siang untuk mengejar anjing. Kotor, solnya robek dan serat tali sepatunya
terurai.
“Hari ini aku mengejar
anjing” jawab raewon dengan cuek
“Ya raewon! Tidak
sebegitunya kau menyukai anjing, lalu dikejar kejar seperti anak kecil saja”
bentak soohee sambil menunjuk raewon dengan sepatunya
“Aku lelah, besok aku
perbaiki” jawab raewon lalu menjatuhkan tubuhnya di ranjang miliknya
“Benar benar anak ini”
soohee menutup pintu agak keras.
Saat raewon membaringkan tubuhnya
di ranjang, lagi lagi ia memikirkan baekhyun. Pantas saja namja seimut dia
takut pada anjing besar. “Aish raewon berhentilah memikirkannya, besok kau
harus sekolah” gumam raewon. Ia pun bangun untuk membersihkan dirinya lalu
pergi tidur.
TBC